Karakter Kegiatan Publik Internal SMAN 4 Malang dan SMA Panjura Malang

Perbandingan Karakter Komunikasi Internal pada

SMAN 4 Malang dan SMA Panjura Malang

SMAN 4 Malang

Libatkan Aparat Kepolisisan

Tampak siswa-siswi berseragam batik coklat bawahan hitam, keluar masuk gerbang  SMAN 4 Malang. Dari luar gerbang terlihat pula bangunan sekolah, lapangan parkir, dan lapangan basket sekolah tersebut. Bangunan-bangunannya beratap tinggi dan dindingnya tampak kokoh dengan nuansa khas Belanda. Tim observasi sampai di sana ketika waktu menunjukkan pukul 12.23.

Tim Observasi menemui salah satu siswa yang dengan senang hati menjadi kontributor penelitian kecil ini. Dia adalah Rosyid, salah seorang ketua organisasi di SMA Negeri 4 Malang. Kemudian terjalinlah interaksi, berbuah wawancara terkait hal-hal yang telah diperkirakan mampu ditanggapi oleh komponen struktur paling bawah dalam institusi ini, -dan mungkin hampir seluruh institusi pendidikan lainnya- siswa (peserta didik).

Dia menjelaskan beberapa poin yang unik dalam kebijakan bagi siswa-siswi SMAN 4 Malang. Peraturan nampaknya jadi keunikan utama sekolah ini. Seperti peraturan yang mewajibkan siswi putri mengenakan busana panjang yang menutup seluruh lengan dan kaki, meski tidak diwajibkan berkerudung. Peraturan ini berlaku pada setiap seragam harian.

Hal unik dari peraturan lainnya terkait transportasi. Demi menjaga kedisiplinan berkendara, SMAN 4 Malang telah menjalin kerjasama dengan pihak kepolisian Kota Malang. Terbukti dengan kehadiran anggota kepolisian di gerbang masuk SMAN 4 Malang yang setiap hari melakukan razia untuk Surat Izin Mengemudi (SIM) siswa-siswi sekolah tersebut. Rosyid memaparkan bahwa terdapat konsekuensi bila siswa tidak membawa/mempunyai SIM, maka diminta untuk kembali dan tidak diperkenankan masuk sekolah.

Hal lain yang menarik untuk diperhatikan, selain dari keterangan Rosyid, juga pengalaman bersekolah di SMAN 1 Malang, tetangga SMAN 4 Malang. Untuk menjalin dan mempererat hubungan internal maupun eksternal dengan sekolah-sekolah tetangga, diselenggarakanlah sholat Jum’at bersama di Aula SMA Tugu, yang menghubungkan ketiga SMA Tugu (SMAN 1, SMAN 4, SMAN 3).

Kegiatan yang bernafas serupa juga ditunjukkan tiap permulaan kegiatan belajar mengajar, meski saat pergantian jam pelajaran. Siswa-siswi dibimbing untuk memanjatkan doa tiap masing-masing mata pelajaran akan dimulai (tidak hanya pelajaran jam pertama).

perayaan HUT Ke-55 SMAN 4 Malang

perayaan HUT Ke-55 SMAN 4 Malang

SMA Panjura Malang

Isak Tangis Penjaga Ujian

Ada yang berbeda dari SMA Panjura Malang dengan sekolah lain, ketika sekolah sederajatnya biasanya terdapat petugas tata tertib, di sekolah ini malah tidak memerlukannya. ”Yang menjadi petugas tata tertib itu ya diri mereka masing-masing (siswa)”, ungkap Herman Budiono selaku Kepala Sekolah.

Pernyataan ini tangkas mengundang tanya, lantas apa jadinya perilaku siswa jika tidak ada petugas tata tertib? Ketika pertanyaan ini diajukan, Herman pun memanggil salah seorang siswa yang kebetulan lewat depan Ruang Kepala Sekolah. ”Mas coba tanya sama mbak ini”, himbaunya seakan jawabannya juga ada di pikiran siswi tersebut. Saya segera mengulang pertanyaan kepada siswi tersebut dan jawabannya pun membuat saya terdiam beberapa detik. ”Emang budayanya disini kayak gitu. Nggak tahu kenapa nggak ada petugas tatib malah membuat kami disini ngerti apa yang harus diperbuat, mana yang benar, mana yang salah” ujarnya santai.

Saya pun semakin bertanya-tanya mantra apa yang merasuki pikiran anak-anak yang menurut saya masih labil ini sehingga mereka tahu aturan. Seakan-akan jika kenakalan remaja dilakukan, sanksi secara kultur lebih kuat dibanding secara struktur. Artinya, anak-anak disini merasa bukan saatnya lagi menerima hukuman struktural seperti skors, nilai buruk, ataupun tidak naik kelas. Tapi dengan kesadaran diri secara kultural seperti dijauhi teman, dan tidak merasa nyaman di sekolah akan menjadi lebih buruk ketika siswa melanggar aturan. Hal yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kultur ini bisa berkembang di seluruh warga Panjura? Herman pun sedikit menceritakannya. ”Mungkin siswa baru yang masih membawa sifat SMP nya belum mengerti budaya disini. Sehingga budaya kesadaran diri tidak hanya disosialisasikan melalui Masa Orientasi Siswa (MOS), tapi juga melalui contoh konsisten yang sehari-hari dilakukan oleh guru dan kakak kelas. Ketika mayoritas guru dan kakak kelas berbuat demikian, maka minoritas siswa baru akan ada rasa sungkan untuk melanggar. Ini yang kemudian berlanjut terus ke angkatan selanjutnya”.

Hal lain yang membuat saya merasa tercengang juga adalah cara guru menghukum siswa  yang melanggar peraturan. Walaupun kebanyakan siswa yang melanggar peraturan adalah siswa kelas 10, namun cara menghukumnya pun tidak secara represif, tapi preventif. ”Kalau ada yang melanggar, kami tidak ingin membuatnya takut dengan membawa dia ke ruang guru kemudian diinterogasi. Biasanya kami mengajaknya ngobrol ringan yang membuat dia lebih terbuka dan mengajaknya ke hall, taman atau kantin sekolah supaya lebih nyaman. Cara ini yang menurut kami efektif membuat kesadaran dalam diri siswa itu lahir,” urai Herman.

Salah satu siswi yang tadi dipanggil Herman langsung menyahut seakan bibirnya tak kuasa ingin menceritakan kesadaran siswa-siswi Panjura. ”Waktu ujian, ada penjaga dari sekolah lain. Penjaganya itu kaget karena semua siswa anteng-anteng aja nggak ada yang nyontek. Terus waktu udah selesai, penjaga tadi terharu sampai nangis”, ungkapnya. “Ini siswa yang diharapkan oleh semua guru”, ucap siswi itu dengan berusaha menirukan ucapan Sang Penjaga Ujian. Hal yang jarang terjadi di setiap sekolah karena siswa Panjura telah membuktikan bahwa ketiadaan Petugas Tata Tertib malah membuat siswa memiliki kesadaran diri untuk taat peraturan.

Siswa-siswi SMA Panjura saat sholat berjamaah

Siswa-siswi SMA Panjura saat sholat berjamaah

Disini “Enjoy aja”

Hubungan harmonis antar guru juga dilakukan sebagai bentuk tauladan bagi siswa. Berbagai kegiatan untuk merekatkan hubungan internal juga sering dilakukan. Seperti saat HUT Sekolah, Idul fitri, dan acara kumpul keluarga atau family gathering dimana guru-guru, TU dan karyawan membawa keluarganya di acara ini. Kegiatan tersebut adalah bentuk kegiatan informal di luar aktivitas belajar mengajar dan salah satu metode untuk merekatkan hubungan antar civitas sekolah.

Tidak hanya itu, dalam kegiatan belajar mengajar pun sering dilakukan rapat untuk mencapai visi dan misi SMA Panjura. Misalnya dilakukan rapat dinas setiap bulan sekali untuk menyamakan sistem pengajaran. Rapat rencana kerja sekolah yang diadakan setahun sekali untuk menentukan apa saja yang diperbarui dalam melayani siswa tahun ajaran baru. Rapat koordinasi dari Kepala Sekolah kepada seluruh guru dan pertemuan lainnya sebagai upaya meningkatkan kualitas pengajaran dan pelayanan kepada siswa.

Saat mengunjungi SMA Panjura, penulis menemui salah satu guru di ruangannya. Walaupun ada struktur dan jabatan yang berbeda, komunikasinya tergolong santai dan luwes. “Yang junior menghormati senior, dan senior menyayangi junior”, ungkap Edi selaku guru olahraga.

Analisis Perbandingan

Birokrasi perlu waktu untuk ditemui. Tim observasi menemui kesulitan saat melakukan kunjungan ke SMAN 4 Malang karena belum mampu membawa surat tugas dari Universitas Brawijaya. Ketika tim observasi memetakan waktu kepada pihak sekolah melalui kontributor (tanpa surat pengantar), Wakil Kepala Sekolah bidang Humas memberi kesempatan pada pekan depan sejak tertanggal hari Sabtu, 8 Maret 2014.

Hal ini berbeda dengan SMA Panjura yang didatangi tanpa surat tugas dan langsung bisa menemui pihak sekolah. Tim observasi pun bisa melakukan wawancara kepada siswa, guru, dan kepala sekolah yang walaupun sebelumnya belum membuat janji. Bahkan, kepala sekolah yang sedang sibuk dikejar deadline mengerjakan laporan bisa menyempatkan sedikit waktunya.

Dari segi komunikasi internal yang diterapkan pada SMAN 4 Malang cenderung menegakkan aturan kedisiplinan secara represif, hal ini dibuktikan dengan adanya Petugas Tata Tertib yang setiap saat bisa memberikan konsekuensi jika siswa melanggar peraturan. Bahkan juga ada keterlibatan aparat kepolisian dalam memantau kedisiplinan siswa mengendarai sepeda motor. Aturan memakai seragam panjang pun juga diterapkan secara tegas.

Berbeda dengan SMA Panjura yang menerapkan rasa kesadaran diri pada setiap warga sekolah. Hal ini menjadi efektif dilakukan di SMA Panjura. Hal tersebut terbukti saat ujian berlangsung, penjaga ujian terharu karena siswa tidak saling mencontek. Ketika ada siswa yang melanggar aturan pun, guru melakukan pendekatan personal. Sikap seperti ini membuat siswa menjadi lebih terbuka terhadap para guru dan merasa nyaman di sekolah.


Kesimpulan

–          Setiap sekolah berhak menerapkan aturannya untuk mencapai visi dan misinya. Opinion leader seperti kepala sekolah ataupun Humas pada publik internal harus bisa menanamkan pemahaman akan tujuan sekolah dalam bentuk budaya organisasi.

–          Budaya organisasi yang ditanamkan kepada siswa ataupun karyawan sebaiknya bisa diterima dan dilaksanakan dengan efektif. Artinya tidak ada unsur paksaan bagi mereka yang menerapkan.

–          Perbedaan antara institusi pemerintah dan swasta terlihat jelas pada system birokrasi. Institusi pemerintah cenderung sangat ketat dan prosedural dalam penerapan birokrasi. Sedangkan institusi swasta tidak terlalu prosedural, artinya bisa berubah (kondisional).

–          Institusi pemerintah lebih ketat dalam penyelenggaraan peraturan dan tata tertib sekolah. Hal ini terlihat saat SMAN 4 Malang bekerjasama dengan polisi untuk memantau kedisiplinan siswa dalam berkendaraan. Sedangkan institusi tidak terlalu menekankan pelaksanaan peraturan secara ketat namun berusaha menanamkan budaya kesadaraan untuk menaati peraturan pada diri siswa.

Advertisements

Posted on March 10, 2014, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: