Budaya Universitas Bina Nusantara dan PT. Pertamina

BUDAYA ORGANISASI PT PERTAMINA (PERSERO)

Kita tentu saja sangat akrab dengan bahan bakar minyak. Hampir setiap hari kita menggunkannya, baik untuk kendaraan dan  industri. Selain itu, tabung  LPJI atau tabung gas yang ada di dapur rumah-rumah kita juga merupakan bahan bakar yang kesemuanya adalah produk dari PT PERTAMINA (Persero). Pertamina adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki pemerintah Republik Indonesia (state-owned oil company) yang dibentuk  pada tanggal 10 desember 1957 dengan nama PT PERMINA. dan berubah nama pada tahun 1968 menjadi PT PERTAMINA setelah pada tahun 1961 digabung dengan PN PERTAMIN.

Pertamina adalah perusahaan milik negara yang bergerak di bidang energi yang meliputi minyak, gas serta energi baru dan terbarukan. Pertamina menjalankan bisnisnya berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola korporasi yang baik sehingga dapat berdaya saing tinggi di era globalisasi.

Pertamina sebagai badan usaha milik negara yang menangani pertambangan, produksi, hingga distribusi bahan bakar minyak ini tidak diwujudkan dalam waktu sekejap. Dibutuhkan waktu lebih dari 55 tahun untuk menjadi Pertamina seperti saat ini. Salah satu faktor penting adalah adanya budaya perusahaan di PT Pertamina (Persero). Budaya perusahaan adalah pola sikap, keyakinan, asumsi, dan harapan, yang dimiliki bersama dan dipegang secara mendalam untuk membentuk cara bagaimana karyawan/karyawati bertindak dan berinteraksi agar sasaran perusahaan tercapai.

Sejalan dengan apa yang ingin dicapai, Pertamina menggunakan landasan  kokoh yang tertuang dalam  Visi dan Misi Pertamina. Visi  Pertamina adalah “menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia”   untuk mewujudkan Visi Pertamina sebagai perusahaan kelas dunia, maka Pertamina sebagai badan usaha milik negara turut melaksanakan dan menjunjung kebijakan dan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional, terutama pada bidang usaha energi, yaitu energi baru dan terbarukan baik didalam maupun di luar negeri. Dengan optimalisasi diberbagai bidang Pertamina ingin mewujudkan visinya sebagai perusahaaan kelas dunia.

Mendukung visi tersebut Pertamina menerapkan strategi jangka panjang perusahaan, yaitu Aggressive in Upstream, Profitable in Downstream dimana Pertamina berupaya melakukan ekspansi bisnis hulu (meliputi eksplorasi dan produksi minyak, gas, dan panas bumi) dan menjadikan bisnis sektor hilir (meliputi bisnis pengolahan, pemasaran & niaga, serta bisnis LNG. Yang mencakup aktivitas pendistribusian produk-produk hasil minyak dan petrokimia yang diproduksi oleh kilang Pertamina maupun yang diimpor, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun luar negeri yang didukung oleh sarana distribusi dan transportasi melalui darat dan laut, sehingga migas menjadi lebih efisien dan menguntungkan.

Untuk mewujudkan Visi ini Pertamina memiliki Misi yaitu “Menjalankan usaha minyak, gas, serta energi baru dan terbarukan secara terintergrasi, berdasarkan prinsip-psinsip komersial yang kuat.”  Pertamina sebagai perseroan menjalankan usaha inti dalam bidang minyak, gas, bahan bakar nabati serta kegiatan pengembangan, eksplorasi, produksi dan niaga energi baru dan terbarukan (new and renewable energy)secara terintegrasi.

Pertamina menggunakan landasan yang kokoh dalam melaksanakan kiprahnya untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan dengan menerapkan Tata Kelola Perusahaan yang sesuai dengan standar global best practice, serta dengan mengususng tata nilai Korporat yang telah dimiliki dan dipahami oleh seluruh unsur perusahaan, yaitu:clean, competitive, confident, customer-focused, commercial dan capable. Seiring dengan itu Pertamina juga senantiasa menjalankan program sosial dan lingkungannya secara terprogram dan terstruktur, sebagai perwujudan dari kepedulian serta tanggungjawab perusahaan terhadap seluruh stakeholdernya.

 

 

Analisis Budaya Organisasi PERTAMINA

Wirawan (2007:10) mendefinisikan budaya organisasi sebagainorma, nilai-nilai, asumsi, kepercayaan, filsafat, kebiasaan organisasi, dan sebagainya yang dikembangkan dalam waktu yang lama oleh  pendiri, pemimpin dan anggota organisasi yang disosialisasikan dan diajarkan kepada anggota baru serta diimplementasikan dalam aktivitas organisasi sehingga mempengaruhi polapikir, sikap, dan perilaku anggota organisasi dalam memproduksi produk, melayani konsumen dan mencapai tujuan organisasi.

A. Norma dan Nilai-nilai

Pertamina terumuskan dalam enam tata nilai perusahaan:

  1. Clean (Bersih)

Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas. Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik.

  1. Competitive (kompetitif)

Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja.

  1. Confident (percaya diri)

Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa

  1. Customer focus (fokus pada pelanggan)

Berorientasi pada kepentingan pelanggan dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan

  1. Commercial (komersial)

Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat

  1. Capable (berkemampuan)

Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesioanl dan memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun kemampuan riset dan pengembangan.

B. Asumsi, Kepercayaan, dan Filsafat Logo Pertamina

ARTI LOGO PERTAMINA

Elemen logo membentuk huruf “P” yang secara keseluruhan merupakan
representasi bentuk panah
menggambarkan Pertamina yang bergerak maju dan progresif
warna-warna mencolok menunjukkan langkah besar yang diambil Pertamina dan aspirasi
perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis
warna merah mencerminkan Keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam meghadapi
berbagai macam kesulitan.
warna hijau mencerminkan sumber daya energy yang berwawasan lingkungan
warna biru mencerminkan andal, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab

 

C. Kebiasaan Organisasi

Kami menyorot kebiasaan organisasi yang tercermin dalam pelayanan eksternal sektor hilir, yaitu SPBU, antara lain;

–         Pengingat perhitungan untuk isi mulai dari 0

–         Pertanyaan perlu nota tidak

–         Penyediaan nitrogen gratis

–         Pelayanan meski pembelian kecil dengan tagline “pasti pas”

Selain itu ada Code of Conduct merupakan salah satu wujud komitmen dan penjabaran tata nilai PT Pertamina (persero)  6C yaitu Clean, Competitive, Confident, Customer, Focused, Commercial dan Capable kedalam interpretasi perilaku yang terkait dengan etika usaha dan tata perilaku. Etika Usaha dan tata perilaku (code of conduct) ini disusun untuk menjadi acuan perilaku bagi komisaris, direksi dan pekerja sebagai insan Pertamina dalam mengelola perusahaan guna mencapai visi, misi, dan tujuan perusahaan.

Penerapan Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) ini dimaksudkan untuk:

  1. Mengidentifikasi nilai-nilai dan standar etika selaras dengan Visi  dan Misi perusahaan
  2. Menjabarkan Tatat Nilai Perusahaan 6C sebagai landasan etika yang harus diikuti oleh insan Pertamina dalam melaksanakan tugas
  3. Menjadi acuan perilaku insan Pertamina dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab masing-masing dan berinteraksi dengan stakeholders perusahaan
  4. Menjelaskan secara rinci standar etika agar insan Pertamina dapat menilai bentuk kegiatan yang diinginkan dan membantu memberikan pertimbangan jika menemui keragu-raguan dalam bertindak.

Etika Usaha dan Perilaku ini sebagai bagian dari manajemmen perubahan yang tengah digulirkan berkenaan dengan perubahan status hukum Pertamina menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perseroan, PT Pertamina Persero berkomitmen untuk melaksanakan praktik-praktik Good Corporate Governance atau tata kelola perusahaan yang baik sebagai bagian dari usaha untuk pencapaian Visis dan Misis perusahaan.

Selain untuk insan Pertamina secara keseluruhan, Pertamina juga memiliki Code Of Conduct yang dikhususkan untuk Dewan Pimpinana Pertamina.

Panduan DEWAN

Board Manual yang merupakan salah satu Softstructure Good Corporate Governance (GCG) sebagai penjabaran dari pedoman Tata Kelola Perusahaan (code of corporate governance) yang mengacu pada Anggaran Dasar Perseroan. Board Manual ini berlaku bagi pelaksanaan hubungan kerja anatar organ komisaris dan organ direksi di Lingkungan PRT Pertamina dengan mengacu pada ketentuan yang terdapat dalam anggaran dasar Pertamina dan peraturan Undang-Undang.

Bord Manual yang merupakan naskah kesepakatan antara direksi dan komisaris bertujuan:

  1. Menjadi rujukan pedoman  tentang tugas pokok dan fungsi kerja masing-masing organ.
  2. Meningkatkan kualitas dan efektifitas hubungan kerja antar  organ
  3. Menerapkan asas-asas GCG yakni Transparansi, akuntabilitas, responsibilititas, independensi, dan fairness.

ANALISIS BUDAYA UNIVERSITAS BINA NUSANTARA

Hasil Observasi

 

Visi dan Misi

Sebagian dari kita tentu pernah atau bahkan sering mendengar nama Universitas Bina Nusantara atau yang lebih akrab dikenal dengan nama BINUS. Ya, Universitas Bina Nusantara merupakan salah satu perguruan tinggi swasta unggulan di Indonesia. Universitas ini terkenal dengan julukan sebagai Kampus IT terbaik se-Indonesia. Hal ini tentunya sesuai dengan visi Binus untuk menjadi universitas berkelas dunia (a world-class university). Untuk mewujudkan visi tersebut, Binus memiliki beberapa misi, antara lain:

  1. 1.      Recognizing and rewarding the most creative and value-adding talents
  2. 2.      Providing a world-class teaching, learning, and research experience that foster excellence in scholarship, innovation, and entrepreneurship.
  3. 3.      Creating outstanding leaders for global community
  4. 4.      Conducting professional services with an emphasis on application of knowledge to the society
  5. 5.      Improving the quality of life of Indonesians and the international community

Nilai-nilai

Selayaknya sebuah instant/organisasi, Binus juga memiliki nilai-nilai dasar yang menjadi panduan untuk menjalankan aktivitas guna mencapai visi-visinya, antara lain:

  • Tenacious Focus (Fokus yang Kuat)

Acting with a passionate, committed, and determined focus towards shared purposes (bertindak dengan penuh gairah, komitmen, dan menentukan fokus terhadap tujuan bersama).

  • Freedom to Innovate (Kebebasan Berinovasi)

Combining integrity with a creative and result-oriented spirit (menggabungkan integritas dengan semangat kreatif dan berorientasi hasil).

  • Farsighted (Berpandangan Jauh)

Sharing the foresight to recognize and take action on future opportunities (Berbagi pandangan ke depan untuk mengenali dan mengambil tindakan pada peluang di masa depan).

 

  • Embrace Diversity (Merangkul Keberagaman)

Celebrating diversity in the pursuit of excellence (merayakan keragaman dalam mengejar keunggulan).

Selain itu, Binus juga berkomitmen untuk menyediakan pendidikan berkelas dunia dengan pengalaman belajar internasional yang membuat kontribusi positif bagi komunitas global (sumber: website resmi Universitas Bina Nusantara, http://binus.ac.id/vision-mission).

Universitas Bina Nusantara sudah memiliki karakteristik sebagai institusi dengan budaya organisasi modern, yaitu organisasi/isntitusi yang berinovasi dalam pengelolaan yang efisien dengan melakukan sentralisasi operasional dan desentralisasi akademis. Pengelolaan organisasi sudah terstruktur dan tersistem dengan baik, budaya operasional yang sangat procedural dan mendetil serta sangat berorientasi pada hasil dan target yang telah ditentukan dengan jelas dan terukur. Selain itu, suasana kerja yang menjunjung tinggi integritas, kejujuran, etika, penuh dedikasi, loyalitas, iklim komunikasi yang nyaman serta rasa kekeluargaan yang tinggi, Universitas Bina Nusantara juga memiliki dan memanfaatkan teknologi informasi komunikasi yang menyeluruh dan terintegrasi melalui Binusmaya yang juga identitas pembeda dan kebanggaan organisasi.

Schein (2009) dalam jurnal Kajian Budaya Organisasi Buna Nusantara University dalam Upaya Menuju“A World Class University”(Luthfia, Wasita, & Syaukat, 2013) menjelaskan konsep budaya organisasi sebagai cara berpikir dan perilaku bersama yang terbentuk, serta hasil kera yang dicapai menjadi unsur-unsur budaya dari organisasi. Bila kesuksesan berlanjut, maka akan menjadi panduan bagaimana menkalankannya dan bagaimana seharusnya dilakukan. Dalam jurnal tersebut, peneliti juga mengutip penjelasan Robbins (2005) mengenai manfaat budaya organisasi dari sisi anggota, yakni mengurangi ambiguitas dan menuntun apa serta bagaimana pekerjaan harus diselesaikan dan apa saja yang penting.

Dalam penelitian terhadap budaya organisasi Universitas Bina Nusantara, peneliti (Luthfia, Wasita, & Syaukat) menggalinya berdasarkan konsep-konsep tampilan budaya (performances) yang dijelaskan oleh Pacanowsky dan O’Donnell-Trujillo (dalam Littlejohn, 2008; West & Turner, 2007), antara lain:

  1. Ritual : suatu aktivitas yang dianggap oleh suatu kelompok sebagai kebiasaan rutin (dilakukan berulang-ulang secara teratur).
  2. Hasrat (passion) : bagaimana para karyawan dapat mengubah pekerjaan-pekerjaan rutin dan membosankan menjadi menarik dan merangsang minat kerja.
  3. Sosialitas : bentuk tampilan yang akan memperkuat pengertian/pemahaman bersama mengenai kebenaran ataupun norma-norma dan penggunaan aturan-aturan dalam organisasi, seperti tata susila dan sopan santun.
  4. Politik organisasi : menciptakan dan memperkuat minat terhadap kekuasaan dan pengaruh, seperti memperlihatkan kekuatan diri untuk mengadakan prses tawar-menawar (bargaining power).
  5. Enkulturasi : proses “pengajaran” budaya kepada para anggota organisasi. Sebagai contoh aadalah learning the roles yang terdiri atas urutan-urutan penampilan ketika orang mengajarkan kepada orang lain tentang bagaimana cara mengerjakan sesuatu. Ini juga termasuk bagaimana karyawan belajar atau meniru sikap pimpinan mereka, missal kedisiplinan, tanggung jawab, dan lain sebagainya.

Selain itu, budaya organisasi Universitas Bina Nusantara erat kaitannya dengan kajian budaya organisasi modern (Stephen P. Robbins, 2005 dalam Luthfia, Wasita, & Syaukat, 2013):

  1. Inovasi dan keberanian mengambil risiko: sejauh mana anggota organisasi didorong untuk inovatif dan berani mengambil risiko.
  2. Perhatian detil: sejauh mana anggota organisasi diharapkan mampu menunjukkan ketepatan, analisis, dan perhatian pada hal-hal secara detail/rinci.
  3. Orientasi hasil: sejauh mana para impinan berfokus pada hasil (output) dan bagaimana orientasi pimpinan pada proses/teknik yang dilakukan untuk mencapai hasil tersebut.
  4. Orientasi orang: sejauh mana keputusan pimpinan mempertimbangkan efek hasil pada anggota organisasi.
  5. Orientasi tim/kelompok: sejauh mana aktivitas kerja diorganisasikan dalam kelompok-kelompok kerja dibandingkan pada kerja individual.
  6. Keagresifan: kondisi agresifitas dan kompetisi anggota organisasi.
  7. Stabilitas: sejauh mana aktivitas organisasi menekankan pad akemajuan dan bukan pada status quo (kondisi yang ada saat ini).

Berdasarkan observasi dan penelitian yang dilakukan, jurnal Kajian Budaya Organisasi Buna Nusantara University dalam Upaya Menuju“A World Class University” (Luthfia, Wasita, & Syaukat, 2013) menyimpulkan bahwa Universitas Bina Nusantara sudah memiliki karakteristik sebagai budaya organisasi modern seperti penjelasan di atas. Karakteristik yang paling menonjol adalah kegaresifan, orientasi hasil, perhatian pada hal-hal detil, dan orientasi orang. Keagresifan dapat dilihat dari pertumbuhan bisnis yang sangat cepat, peningkatan jumlah mahasiswa baru, dan bertambahnya jurusan-jurusan baru. Akan tetapi, agresivitas ini tidak cukup disokong oleh jumla sumber daya manusia, sehingga sumber daya manusia yang ada tidak bisa keep up atau mengikuti perkembangan yang cepat dan target kualitas yang diharapkan.

Kenyataan di lapangan, sebagian karakter Binusia tidak seagresif pimpinan. Mereka bukan ingin bersikap santai tapu lebih pada ingin “menghela nafas” sejenak. Binusian cukup memiliki sikap dan semangat kompetitif yang dijaga cukup baik dengan mewujudkan kompetisi yang sehat. Pimpinan juga sering memberi dorongan semangat dan peringatan untuk memenuhi target kerja. Sebagian karyawan yang merasa ingin “menghela nafas” sejenak ini tetap berusaha memenuhi target dan tuntutan kerja walaupun merasa terbebani.

Binus juga terlihat sangat berorientasi pada hasil. Visi dan misi diturunkan menjadi tujuan dan target yang terukur dengan jelas. Visi dan misi organisasi selalu diingatkan pada setiap kesempatan agar seluruh Binusian tetap fokus pada target yang ingin dicapai. Prestasi-prestasi yang telah diraih selalu didengungkan oleh pimpinan yang dimaknai berbeda-beda oleh karyawan. Sebagian menjadikannya motivasi besar yang memacu semangat kerja mereka untuk mencapai target, namun sebagian lagi merasakannya sebagai beban kerja yang berat. Target yang ingin dicapai pun dipatok setinggi mungkin dan semuanya harus siap bekerja keras mencapai sasaran tersebut walaupun ada hal-hal yang harus dikorbankan untuk mencapai sasaran dan pertumbuhan yang diinginkan.

Salah satu hal yang dikorbankan adalah rasa kekeluargaan. Rasa kekeluargaan ini dinilai berkurang karena organisasi yang semakin besar dan semakin procedural. Karyawan berusaha mengejar target dan dituntut untuk memiliki produktivitas yang cepat sehingga waktu dan kegiatan informal untuk mempererat rasa kekeluargaan berkurang dibandingkan masa-masa sebelumnya. Namun, rasa kekeluargaan ini masih tetap ada karena keterbukaan komunikasi dan sikap pimpinan yang selalu berusaha dekat dan terbuka dengan Binusian.

Sedangkan untuk karakteristik people orientation atau orientasi pada orang terlihat dari bagaimana Binus sangat berfokus pada kualitas mahasiswa. Binus berusaha memberikan manfaat dan nilai tambah yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa. Fasilitas yang diberikan pun beragam, mulai dari pelayanan, materi kuliah, seminar, pelatihan, fasilitas kampus, kerjasama dengan instansi-instansi luar negeri untuk mendorong percepatan perkembangan SDM. Hal ini dianggap sesuai dengan prinsip pendiri Binus, “Berbuat sebaik mungkin dengan melayani para mahasiswa sejak mereka mau mendaftar”. Hal ini juga terlihat dari berbagai lini organisasi, terutama bagian layanan mahasiswa yang menerapkan prinsip service excellent. Sedangkan untuk dosen, Binus juga memberikan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi.

 

Tipe Budaya

Menurut penelitian di mengenai budaya di Binus. Budaya cenderung pada budaya keras. Hal ini karena karyawan diberikan pelatihan maksimal. Dalam perekrutannya pun terdapat, calon karyawan melalui seleksi yang ketat karena Binus menginginkan karyawan yang memiliki motivasi tinggi untuk bekerja di dalamnya dengan maksud meminimalisir resiko yang akan muncul. Mahasiswa, guru dan karyawan yang ada di dalamnya pun di motivasi untuk berkompetisi meraih prestasi karena ada penghargaan (reward) seperti best lecturer, best employee, dan best student. Dengan ini terdapat kekuatan dan kelemahan dari budaya yang diterapkan yaitu.

Kekuatan :

  1. Teknologi informasi dan komunikasi yang sangat baik.
  2. Pengelolaan organisasi yang terstruktur dan tersistem dengan baik.
  3. Memiliki “hero” dan “penjaga budaya
  4. Budaya operasional yang sangat prosedural dan mendetil sangat kuat.
  5. Sangat berorientasi hasil dan target — target dan sasaran sangat jelas dan terukur.
  6. Orang-orang didorong untuk selalu mencapai target, berprestasi dan solutif.
  7. Suasana kerja dan berinteraksi yang nyaman.
  8. Kekeluargaan, hampir tidak ada jarak dan status yang menghalangi untuk berinteraksi dan berkomunikasi.
  9. Menjunjung tinggi integritas, kejujuran, etika, dedikasi dan loyalitas.
  10. Komunikasi yang terbuka.
  11. Aturan dan pelaksanaan yang sejalan.
  12. Semangat enterpreneurship pada mahasiswa cukup  kuat.

Kelemahan :

  1. Prestasi binusian masih bertujuan untuk kenaikan gaji dan memperoleh imbalan.
  2. Ikatan peer group (kubu-kubu) yang sangat kuat pada mahasiswa dapat menghambat kolaborasi yang lebih luas walaupun untuk tujuan belajar dan berprestasi.
  3. Beban kerja administratif yang cukup tinggi.
  4. Mendukung team work  tapi sistem imbalan sangat individualistik.
  5. Ukuran-ukuran keberhasilan masih berdasarkan number-oriented dan number-driven, masih minim penilaian keberhasilan pada hal-hal yang intangible / soft area.
  6. Budaya disiplin yang belum mengakar – bila tidak ditingkatkan akan menghambat peningkatan kualitas SDM dan organisasi.
  7. Dominan ritual dan seremonial formal.
  8. Jumlah dan kompetensi sumber daya manusia yang tidak sejalan dengan pertumbuhan bisnis dan jumlah mahasiswa.

 

 

Advertisements

Posted on March 24, 2014, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: